Senin, 23 April 2018

Presentasi : Pembentukan Struktur Sekunder dan Tersier Pada Protein


Pembentukan Struktur Sekunder dan Tersier Pada Protein


Protein adalah makromolekul yang paling banyak ditemukan di dalam sel makhluk hidup dan merupakan 50 persen atau lebih dari berat kering sel. Protein memiliki jumlah yang sangat bervariasi yang mulai dari struktur maupun fungsinya. Peranan protein diantaranya sebagai katalisator, pendukung, cadangan, sistem imun, alat gerak, sistem transpor, dan respon kimiawi. Protein-protein tersebut merupakan hasil ekspresi dari informasi genetik masing-masing suatu organisme tak terkecuali pada bakteri (Campbell et al., 2009; Lehninger et al., 2004). Protein dan gen memiliki hubungan yang sangat dekat dimana kode genetik berupa DNA dienkripsi dalam bentuk kromosom yang selanjutnya kode genetik tersebut ditranslasikan menjadi protein melalui serangkain mekanisme yang melibatkan RNA dan ribosom (Vo-Dinh, 2005).

PENYUSUN PROTEIN
Protein tersusun dari peptida-peptida sehingga membentuk suatu polimer yang disebut polipeptida. Setiap monomernya tersusun atas suatu asam amino. Asam amino adalah molekul organik yang memiliki gugus karboksil dan gugus amino yang mana pada bagian pusat asam amino terdapat suatu atom karbon asimetrik (Gambar 1). Pada keempat pasangannya yang berbeda itu adalah gugus amino, gugus karboksil, atom hidrogen, dan berbagai gugus yang disimbolkan dengan huruf R. Gugus R disebut juga sebagai Rantai samping yang berbeda dengan gugus amino. (Campbell et al., 2009).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikHaO8w_jOQJyuWZE573tg15xbtj6npqmFPM7uXjB0Kyi7I6SJpg_DQQFWtzW620tlJax2VUi5cIR5E6F2SlOgcvqiiGLcMbD3QZl12xDg2AzCI0O0wAm26ynWZRZjjoL5OdQquagn-38/s200/1.jpg
Gambar 1. Struktur umum asam amino (Lehninger et al., 2004).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0KFb-kR8FH9HqvBO8KSpJdjkBtZrxtTtFypUQuJrvRcncNXhI5YDedZBhlw_UNI6BM8rWxgBp89pIjlEOxGgX_sEcLrl8YC4gXsIbRMG0k1FR7xfknlSK4uTRDP-XLdN6YaUHczaDnLU/s400/2.jpg
Gambar 2. Level dari struktur protein (Berg et al., 2006).
Asam amino dalam suatu protein memiliki bentuk L, terionisir dalam larutan, dan memiliki bentuk C asimetris kecuali asam amino jenis glisin. Asam amino standar memiliki jumlah sebanyak 20 macam. Dari 20 macam asam amino tersebut terbentuklah suatu rantai polipeptida. Rantai asam amino akan dilipat menjadi bentuk 3 dimensi dan menjadi bentuk protein spesifik yang diperlukan oleh berbagai aktivitas metabolisme atau menjadi komponen suatu sel (Lehninger et al., 2004; Vo-Dinh, 2005). Di dalam protein tersusun 20 macam asam amino yang memiliki karakteristik yang bebeda-beda sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan ciri rantai sampingnya (gugus R). Pengelompokan tersebut antara lain asam amino bersifat polar (serin, treonin, sistein, asparagin, dan glutamin); non-polar (glisin, alanin, prolin, valin, leusin, isoleusin, dan metionin); gugus aromatik (fenilalanin, tirosin, triptofan); bermuatan positif (lisin, histidin, arginin); dan bermuatan negatif (aspartat dan glutamat). Pengelompokan tersebut didasarkan pada polaritas, ukuran, dan bentuk dari suatu asam amino (Lehninger et al., 2004; Murray et al., 2009).

STRUKTUR PROTEIN
Protein yang tersusun dari rantai asam amino akan memiliki berbagai macam struktur yang khas pada masing-masing protein. Karena protein disusun oleh asam amino yang berbeda secara kimiawinya, maka suatu protein akan terangkai melalui ikatan peptida dan bahkan terkadang dihubungkan oleh ikatan sulfida. Selanjutnya protein bisa mengalami pelipatan-pelipatan membentuk struktur yang bermacam-macam. Adapun struktur protein meliputi struktur primer, struktur sekunder, struktur tersier, dan struktur kuartener (Gambar 2).  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPZ-wJ0fLsU5o0b1l6QV_BHnDTCcvpeHHTxIm7g0p_b4L58CfYRID3EB0cNQFU9PMj6vtRPim4Y4MX-rCJL3qkN4_oyfaHk6WBu_MnIZp9MVuHLefJKYczJYK-cF5ucw73t6LcZX14QAk/s320/3.+pembentukan+peptida.jpg
 Gambar 3. Reaksi pembentukan peptida melalui reaksi dehidrasi (Voet & Judith, 2009).


Struktur sekunder merupakan kombinasi antara struktur primer yang linear  distabilkan oleh ikatan hidrogen antara gugus =CO dan =NH di sepanjang tulang belakang polipeptida. Salah satu contoh struktur sekunder adalah α-heliks dan β-pleated (Gambar 5 dan 6). Struktur ini memiliki segmen-segmen dalam polipeptida  yang terlilit atau terlipat secara berulang. (Campbell et al., 2009; Conn, 2008).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnQNM0xI7zO7N3v-lrKgjZJka-BdGlZJyg-JTdzmU3WhWdogmKjlTsxCecvgda4VY94Fyoh65vNuVo_nTwCZlxTHpeY8bl9d4a2iPtTtw32T-AhQp1y3HiiR5dCoO0UfQQ2baSe1wL09Y/s320/5.+struktur+alfa.jpg
Gambar 4. Struktur sekunder α-heliks (Murray et al, 2009).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCurqd49H62O6eO0VAhJw8vT-J_GaETGz1LbSbVtj0iUWrcO-OBPl6sFq-KnUb5s1njzo5f-yYFa-WVLOH77OU74YLaPkcIrY5RZKtqsh785pv4nxAXLtABBRSBPFUMMrKJtXK-snzLx8/s320/6.+struktur+sekunder.jpg
 Gambar 5. Struktur sekunder β-pleated (Campbell et al., 2009).


Struktur α-heliks terbentuk antara masing-masing atom oksigen karbonil pada suatu ikatan peptida dengan hidrogen yang melekat ke gugus amida pada suatu ikatan peptida empat residu asam amino di sepanjang rantai polipeptida (Murray et al, 2009).

Pada struktur sekunder β-pleated terbentuk melalui ikatan hidrogen antara daerah linear rantai polipeptida. β-pleated ditemukan dua macam bentuk, yakni antipararel dan pararel (Gambar 7 dan 8). Keduanya berbeda dalam hal pola ikatan hidrogennya. Pada bentuk konformasi antipararel memiliki konformasi ikatan sebesar 7 Å, sementara konformasi pada bentuk pararel lebih pendek yaitu 6,5 Å (Lehninger et al, 2004). Jika ikatan hidrogen ini dapat terbentuk antara dua rantai polipeptida yang terpisah atau antara dua daerah pada sebuah rantai tunggal yang melipat sendiri yang melibatkan empat struktur asam amino, maka dikenal dengan istilah β turn yang ditunjukkan dalam Gambar 9 (Murray et al, 2009).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTfY6DaGzwFb0vBz03lqfQEHKdqO4_VJw7EZF9GC3kOgQZmU3_KOt64tST-RaVR9K2N4lm1a-G3p7OTwnP5USuiq_Zq9Bzaaluzscgt2iMtS1zL6oC0xLCa1shIua7oOC6ZbxSJgwYoGs/s320/7.+struktur+antipararel.jpg
 Gambar 6. Bentuk konformasi antipararel (Berg, 2006).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCNQE_B0CPgn3i2loLYZCxKvZGmjrw4ttAGc1i0kMN10NRViVbqZ_PnRJBitBlz-IHYHyFW-PqQ3s_Osrr4koLkaRKgr9TX1HpN2ggkUj-bMBelmS_c37VSmjehxIcxXoC4jzbVd1mRoc/s320/8.+pararel.jpg
 Gambar 7. Bentuk konformasi pararel (Berg, 2006).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha6KZy-kw5tIlqb4gNYS1_-zW2tJgr7Yc-DabJw41ozPTr1szmIjQbn4gELtCmVz2Y19OLu0I5acNdnIasDCNQJcNbX0OEATKPoxN_l1bd8DLrLgbh7VEcJK9FlaLRcm-tZWS0Hy-H_HQ/s400/9.+beta+turn.jpg
Gambar 8. Bentuk konformasi β turn yang melibatkan empat residu asam amino (Lehninger et al., 2004).

Struktur tersier dari suatu protein adalah lapisan yang tumpang tindih di atas pola struktur sekunder yang terdiri atas pemutarbalikan tak beraturan dari ikatan antara rantai samping (gugus R) berbagai asam amino (Gambar 10). Struktur ini merupakan konformasi tiga dimensi yang mengacu pada hubungan spasial antar struktur sekunder. Struktur ini distabilkan oleh empat macam ikatan, yakni ikatan hidrogen, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan hidrofobik. Dalam struktur ini, ikatan hidrofobik sangat penting bagi protein. Asam amino yang memiliki sifat hidrofobik akan berikatan di bagian dalam protein globuler yang tidak berikatan dengan air, sementara asam amino yang bersifat hodrofilik secara umum akan berada di sisi permukaan luar yang berikatan dengan air di sekelilingnya (Murray et al, 2009; Lehninger et al, 2004).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7cXZyCOd8YeJK6kGTiCLvcOzLj_4cp8-Z3kcNc-u4_w4uMykd3GevYh70m3xUDXOkndFCGC-KtTSWMRZ2xcTDWc6vSO_nA12Hv1khQhdEVR64rmvLIdGFR3JRtZghwPUSg4NDOk07JiA/s320/10.+protein+tersier.jpg
Gambar 9. Bentuk struktur tersier dari protein denitrificans cytochrome C550 pada bakteri Paracoccus denitrificans (Timkovich and Dickerson, 1976).


PERMASALAHAN :
1.      Pada struktur sekunder, asam-asam amino yang menyusun protein dihubungkan oleh ikatan peptida dan ikatan hydrogen. Apakah bisa dihubungkan dengan ikatan yang lain? Jika ada tolong jelaskan !
2.      Mengapa dikatakan Struktur tersier merupakan yang lebih kompleks?
3.      Mengapa Struktur sekunder protein bersifat regular?
4.      Struktur protein umumnya dipertahankan oleh dua ikatan, sebut dan jelaskan ?

4 komentar:

  1. Saya desi ratna sari akan menjawab permasalahan nomor 4. Struktur protein umumnya dipertahankan oleh dua ikatan sangat kuat yaitu ikatan peptida dan ikatan disulfida; 1) Ikatan peptide
    Ikatan peptida adalah ikatan yang menghubungkan atom a-karboksil dari suatu asam amino dan atom a nitrogen dari asam amino yang lain. Peptida yang dibentuk oleh dua molekul asam
    amino disebut dipeptida; bila dibentuk oleh 3 molekul asam amino disebut tripeptida; dan bila dibentuk oleh banyak molekul asam amino disebut polipeptida.

    2) Ikatan disulfide
    Terbentuk antara 2 residu sistein yang saling berhubungan 2 bagian rantai polipetida melalui residu sistein.

    BalasHapus
  2. nama saya dolla mulyana harnas dengan nim A1C116080 akan menjawab nomor 1 tidak karena jika dihubungkan dengan ikatan lain maka tidak terbentuk struktur sekunder pada protein, karena pada struktur sekunder asam-asam amino yang menyusun protein dihubungkan oleh ikatan peptida dan ikatan hydrogen.

    BalasHapus
  3. Saya demiati akan membahas pertanyaan nomor 3 yang mana Struktur sekunder merujuk ke struktur dua dimensi dari dua molekul protein dimana terjadi folding (melipat) dari yang beraturan seperti alfa-heliks atau beta-sheet (lipatan beta). Istilah ini juga dipakai untuk struktur protein dimana rantai asam amino bukan hanya di hubungkan oleh ikatan peptida, tetapi juga diperkuat oleh ikatan hidrogen. Oleh karena adanya ikatan hidrogen antara atom hidrogen dari gugus amino dengan atom oksigan dari gugus karboksil dalam satu rantai, suatu rantai polipeptida menggulung seperti spiral (alfa heliks) atau seperti lembaran kertas (beta heliks).

    Pada suatu alfa heliks, terbentuk ikatan hidrogen antara masing-masing atom oksigen karbonil pada sebuah ikatan peptide denan hidrogen yang melekat ke atom polipeptida. Dengan demikian, terbentuk struktur kumparan (ulir) regular dimana masing-masing ikatan peptide dihubungkan oleh ikatan hydrogen keikatan peptida 4 residu asam amino di depanya dan 4 asam amino di belakangnya dalam urutan primer.

    BalasHapus
  4. Saya akan mencoba manjawab permasalahan no 2.
    Karena struktur tersier merupakan konformasi tiga dimensi yang mengacu pada hubungan spasial antar struktur sekunder. Struktur ini distabilkan oleh empat macam ikatan, yakni ikatan hidrogen, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan hidrofobik. Dalam struktur ini, ikatan hidrofobik sangat penting bagi protein. Asam amino yang memiliki sifat hidrofobik akan berikatan di bagian dalam protein globuler yang tidak berikatan dengan air, sementara asam amino yang bersifat hodrofilik secara umum akan berada di sisi permukaan luar yang berikatan dengan air di sekelilingnya

    BalasHapus

Presentasi : Pembentukan Struktur Sekunder dan Tersier Pada Protein

Pembentukan Struktur Sekunder dan Tersier Pada Protein Protein adalah makromolekul yang paling banyak ditemukan di dalam sel makhluk...